2010/09/16

Fujitsu Kembangkan Charger Wireless Super Cepat

Jakarta - Fujitsu tengah mengembangkan sebuah teknologi charging tanpa kabel. Dengan teknologi ini, proses charging atau pengisian baterai diklaim bisa 150 kali lebih cepat dari biasanya.

Teknologi charger wireless besutan Fujitsu ini memanfaatkan sebuah metode yang disebut resonansi magnetik. Tak seperti metode induksi elektromagnetik kebanyakan, metode ini nantinya tak akan lagi mengharuskan adanya keselarasan antara power transmitter dan receiver.

Keunggulan yang ditawarkan oleh Fujitsu lewat teknologi ini adalah kemampuan
melakukan proses charging ke beberapa perangkat sekaligus lewat sebuah transmitter tunggal. Selain itu, teknologi wireless charging ini diklaim mampu mengisi ulang baterai sebuah perangkat dalam jarak beberapa meter.

"Teknologi lain hanya bekerja pada jarak yang dekat serta power transmitter dan receiver harus selaras. Jadi, efektivitasya tak jauh beda dengan teknologi charging lewat kabel. Yang dilakukan oleh Laboratorium Fujitsu adalah mengembangkan teknologi yang bisa mempersingkat waktu charging, mengembangkan sistem charging lewat metode resonansi magnetik," demikian penjelasan Fujitsu seperti detikINET kutip dari Cnet, Rabu (15/9/2010).

Metode resonansi magnetik yang dipakai Fujitsu pada teknologi wireless charging ini memanfaatkan koil dan kapasitor sebagai resonator. Resonator inilah yang nantinya mampu mentransmisikan energi listrik dalam jarak beberapa meter.

Teknologi yang diklaim 85 persen lebih efisien ini rencananya akan dipasarkan mulai tahun 2012. Perangkat pertama yang menikmati teknologi ini kemungkinan besar adalah ponsel. Selain itu, nantinya Fujitsu juga berencana memanfaatkan teknologi ini untuk mengisi ulang baterai perangkat berukuran besar seperti mobil elektrik.
( feb / rns )

Flashdisk 3.0 Kingston Janjikan Transfer Data 10 Lebih Cepat

Jakarta - Kingston resmi mengapalkan generasi perdana flashdisk USB 3.0. Kemampuan USB
3.0 besutannya itu menjanjikan kecepatan yang lebih prima dibandingkan USB 2.0.

Produk anyar yang diberi nama DataTraveler Ultimate 3.0 ini diklaim mampu mendongkrak kecepatan transfer data hingga 10 kali lipat. Sedangkan untuk kemampuan baca dan tulis, Kingston menjanjikan DataTraveler Ultimate 3.0 bisa mencapai kecepatan 80MB/detik dan 60MB/detik.

Untuk mengetahui gambaran produk ini, Kingston melakukan sebuah tes internal yang memperlihatkan bahwa sebuah film berdurasi 1 jam 44 menit berkapasitas 3,9GB bisa tuntas dicopy ke DataTraveler Ultimate 3.0 hanya dalam waktu 1 menit 13 detik. Sedangkan proses transfer DVD berdurasi 2 jam 23 menit dengan kapasitas 4,4GB bisa selesai dalam waktu 1 menit 23 detik.

Untuk mendukung kompatibilitas dengan produk sebelumnya, Kingston juga menyertakan kabel Y dalam paket pembelian flashdisk ini. Pasalnya, beberapa port USB 2.0 memerlukannya untuk menginisialisasi drive USB 3.0.

"USB 3.0 adalah tonggak utama berikutnya untuk produk flashdisk, dan Kingston ingin punya sebuah produk di pasar untuk para pembeli awal. DataTraveler Ultimate 3.0 merupakan flashdisk USB 3.0 pertama kami yang dirancang untuk orang-orang yang ingin menjajal teknologi baru sebelum itu menjadi hal yang mainstream," kata USB Business Manager Kingston, Andrew Ewing.

Dikutip detikINET dari PR Newswire, Kamis (16/9/2010), ada tiga pilihan kapasitas yang ditawarkan, yakni 16GB, 32GB dan 64GB dengan harga bervariasi. DataTraveler Ultimate 3.0 dibanderol seharga USD 89 (sekitar Rp 798 ribu) untuk kapasitas 16GB, USD 138 (sekitar Rp 1,23 juta) untuk 32GB, dan USD270 (sekitar Rp 2,42 juta) untuk 64GB.

Berikut adalah spesifikasi lengkap DataTraveler Ultimate 3.0:

- Kapasitas - 16GB, 32GB, 64GB
- Requirement - System with USB 3.0 port
- Backwards compatible - with USB 2.0
- USB 2.0 speeds - approximately 30MB/sec. read and 30MB/sec. write
- Dimensi - 2.90" x 0.87" x 0.63" (73.70 mm x 22.20 mm x 16.10 mm)
- Temperatur operasi - 32° to 140°F (0° to 60°C)
- Temperatur penyimpanan - -4° to 185°F (-20° to 85°C)
- Kapabilitas OS - Windows XP, Vista and 7
- Garansi - 5 tahun

( feb / rns )

2009/05/15

Nyasar di Jalan, Robot Tanya Pejalan Kaki

Jerman - Kian lama, tingkah robot kian mirip manusia saja. Kala nyasar di jalanan, si robot pun tidak segan-segan menanyai orang-orang untuk mencari arah yang benar.

Kemampuan itu disematkan pada robot canggih bernama Autonomous City Explorer (ACE) ini. ACE dibuat para ilmuwan di Jerman, tepatnya para akademisi di Technical University of Munich.



Para ilmuwan membiarkan si robot berjalan dari universitas menuju sebuah tempat di tengah kota Munich dengan jarak sekitar 1,5 km. Untuk diketahui, ACE tidak dibekali perangkat penunjuk arah seperti sistem GPS.

Dengan demikian, sang robot harus bertanya pada orang-orang di dekatnya untuk mencari jalan menuju tujuan. Untuk itu, ACE dibekali dengan kamera dan software agar dapat mendeteksi keberadaan manusia di sekitarnya.

Dikutip detikINET dari Times of India, Jumat (15/5/2009), ACE mengandalkan speaker untuk menanyai para pejalan kaki. Kemudian, jika orang tersebut mau menolong, ia bakal diminta menyentuh layar sentuhnya untuk menujukkan arah.

Sesudahnya, si robot tak lupa mengucap terima kasih pada manusia yang mau membantunya sebelum nyelonong pergi ke tempat tujuannya. Setelah berinteraksi dengan 38 orang dalam periode waktu 5 jam, ia baru bisa mencapai tujuan.

ACE juga sempat nyasar karena ada orang yang salah menunjukkan arah. Namun meski cukup kepayahan, keberhasilan ACE sampai ke tujuan disambut gembira para penciptanya. Ia pun sukses menuruti petuah yang lama diajarkan pada kaum manusia, malu bertanya sesat di jalan.
( fyk / ash )

DARPA working on "Silent Talk" telepathic communication for soldiers

We're no strangers to crazy DARPA projects around here, but this one especially strikes our fantastic fancy. The agency's researchers are currently undertaking a project -- called Silent Talk -- to "allow user-to-user communication on the battlefield without the use of vocalized speech through analysis of neural signals."

That's right: they're talking about telepathy. Using an EEG to read brain waves, DARPA is going to attempt to analyze "pre-speech" thoughts, then transmit them to another person. They first plan to map people's EEG patterns to his / her individual words, then see if those patterns are common to all people.

If they are, then the team will move on to developing a way to transmitting those patterns to another person. Dream big, that's what we always say!

Boston Dynamics-designed RiSE V3 robot climbs poles, haunts dreams

The folks at Boston Dynamics have already made quite a name for themselves in the world of creepy robotics, but it looks like they're not ones to keep all their know-how to themselves, and they've now lent the University of Pennsylvania's Kod*lab a hand with this new RiSE V3 pole-climbing robot.



That, as you've no doubt surmised, is a followup to RiSE V1 and V2, which were developed without the help of Boston Dynamics and were more suited to climbing flat surfaces than poles. In addition to a vastly different leg mechanism, this latest model also makes use of some brushless DC motors that increase the power density to let it climb poles at rates up to 22cm per second, which the researchers say make it well-suited for a wide range of tasks.

As you can see for yourself, the bot mostly seems to work remarkably well, although it's obviously not quite ready to tackle critical jobs all by itself just yet.

2009/01/14

USB Powered Monitor




We swung by D-Link's booth at CES to check out its upcoming SideStage USB-powered monitor, hoping to see the thing in action and get some more details ahead of its release.

What we found was quite familiar looking, to say the least. D-Link was disappointingly just demoing a Nanovision, but was quick to point out this would not be the product destined for a full US release sometime this summer.

That new display will still be produced by Nanovision, but will be modified to better suit our market, graced with a different logo, and cheaper, too. No firm price yet, but the company is targeting sub-$100, which sounds good to us.

2008/05/07

Libelula rocket-powered helicopter backpack redefines danger



Sure, you can get yourself a personal helicopter or, if you're particularly daring, a jet pack, but what about those that crave yet more danger in short 30-second bursts? As in, rocket-propelled helicopter blades a few inches from your head-type danger. Thankfully, the folks at Tecnologia Aeroespacial Mexicana (makes of some of the aforementioned jet packs) have come to the rescue (so to speak), with their latest high-flying concept, the Libelula rocket-powered helicopter backpack. Apparently, the rockets on the tips of the blades are necessary to keep the whole rig counter-balanced, a job that would normally be done with a tail rotor on an ordinary helicopter. Of course, as you can no doubt surmise by the detailed illustration above, this one's still a ways away from getting its first test flight, but the folks at TAM do have a proven track record, so we wouldn't put it completely past 'em to get it off the drawing board sooner or later. [Via Tech Digest]